February 15, 2009
Yang alami selalu lebih baik. Begitu juga dengan cara kelahiran bayi. Penelitian telah membuktikan bayi yang lahir melalui bedah Caesar memiliki indikasi kekebalan tubuh yang lebih rendah daripada bayi yang lahir secara normal. Meski begitu, jika kelahiran secara bedah Caesar tidak dapat dihindarkan, kekebalan tubuh bayi dapat didongkrak dengan beberapa cara, misalnya dengan memberikan probiotik. Probiotik sebagai bakteri hidup yang menguntungkan berfungsi sebagai zat yang dapat membentuk sistem daya tahan tubuh bayi. Probiotik salah satunya terdapat pada air susu ibu (ASI).
Mengapa bayi yang lahir secara normal memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik daripada bayi yang lahir melalui bedah Caesar? Pada persalinan normal, bayi akan mengalami kontak dengan bakteri dari flora ibu, yakni dari feses atau jalan lahir (vagina) ibu. Bakteri tersebut bersifat ‘baik’ dan dapat membantu mempercepat tumbuhnya mikroflora usus pada bayi. Mikroflora ini merupakan salah satu komponen yang berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh.
Sementara itu bayi yang lahir melalui bedah Caesar tidak memiliki kesempatan kontak dengan bakteri baik tadi. Yang ada malah tingginya pertumbuhan bakteri merugikan seperti E. Coli dan Clostridium. Kondisi ini mengakibatkan daya tahan tubuh bayi yang lahir secara bedah Caesar tidak sebaik bayi yang dilahirkan secara normal sehingga mereka lebih berisiko terhadap infeksi saluran pencernaan dan penyakit alergi.
Telah diketahui bahwa ASI adalah yang terbaik bagi bayi. Sangat dianjurkan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan pertama. ASI terbukti memiliki bakteri menguntungkan dan zat-zat yang dibutuhkan bayi untuk membentuk mikroflora usus yang penting untuk sistem daya tahan tubuh bayi.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana jika ASI tidak dapat diberikan karena berbagai alasan? Pada bayi yang tidak mendapatkan ASI, ada dua hal yang bisa dilakukan. Cara yang pertama adalah memberikan makanan yang tinggi laktosa, rendah phosphat, dan rendah protein. Ibu dapat bertanya ke dokter anak mengenai jenis diet ini. Diet ini akan membentuk kondisi optimal yang memungkinkan bakteri baik dapat tumbuh secara alami.
Cara yang kedua adalah tentu saja memberikan asupan nutrisi atau suplemen yang mengandung probiotik bagi bayi. Probiotik dapat membantu pori-pori usus bayi menutup—karena bayi yang lahir secara bedah Caesar memiliki pori-pori usus yang lebih besar, sehingga bisa mencegah masuknya bakteri merugikan. Akibatnya, ketahanan tubuh bayi dapat ditingkatkan.
Asupan probiotik dapat mengurangi kejadian diare dan alergi pada bayi. Maka asupan nutrisi yang mengandung probiotik sangat dianjurkan untuk bayi yang kurang beruntung tidak dapat dilahirkan melalui persalinan normal dan tidak mendapat ASI, yang akibatnya tidak memiliki kesempatan membentuk sistem kekebalan tubuh yang bisa diperoleh akibat kontak dengan bakteri baik dari flora ibu. (niq)
May 16, 2008
Tamu kita kali ini adalah Christine N. Djunaedi (25 tahun), biasa dipanggil dengan Christine. Selain menjadi ibu dari Hayden (laki-laki, usia 21 bulan) dan istri dari Harta (28 tahun), Christine juga seorang pengusaha. Ia adalah pemilik ”Growing Fun”, sebuah toko yang khusus menyediakan educative toys.
Keberadaan ”Growing Fun” memang belum lama – dibuka pada pertengahan tahun 2006 – tapi menurut Christine, sejauh ini respon masyarakat terhadap toko ini cukup bagus. Boleh jadi, mungkin karena orang sudah mulai jenuh dengan toko-toko mainan yang ada sekarang ini. Muncullah ”Growing Fun” yang memberikan alternatif mainan lain, yaitu mainan yang sekaligus menjadi sarana belajar anak.
”Sejak dulu saya memang ingin sekali punya usaha/bisnis sendiri….”, aku Christine. Setelah mempunyai buah hati, Christine menjadi ingin tahu lebih dalam tentang dunia anak. Pada saat yang sama, naluri bisnisnya mengatakan dunia anak adalah lahan usaha yang sangat menjanjikan. Mulai timbul keinginan untuk membuat bisnis yang berhubungan dengan dunia anak, tapi saat itu Ia masih bingung menentukan jenis usahanya. Untuk mencari inspirasi, Christine mengikuti franchise expo yang rutin dilaksanakan di Singapura. Di sana lah Ia menemukan dan ’jatuh hati’ pada ”Growing Fun”(GF). Tanpa berlama-lama, Christine segera menemui owner GF di Singapura, dan mulai merintis GF di Jakarta.
Namanya juga bisnis…, pasti diharapkan memberikan keuntungan materi. Namun, selain keuntungan materi, ibu muda –yang tahun depan berencana memberikan adik untuk Hayden- ini juga punya misi tersendiri melalui outlet GF yang dimilikinya, yaitu lebih mengenalkan educative toys dan konsep bermain sambil belajar kepada pasar Indonesia. Apalagi, menurut Christine, sekarang ini kesadaran orangtua akan pendidikan anak cenderung semakin meningkat.
Para orangtua yang sangat aware dengan pendidikan anak ini lah pangsa pasar GF, selain juga promosi ke sekolah-sekolah. Diakui Christine, bahwa harga produk-produk GF memang tidak bisa dibilang murah. Ini karena semua produknya terbuat dari bahan-bahan non-toxic dan diimpor langsung dari luar negeri, seperti Australia, Inggris, USA, Denmark, Korea, Taiwan, Singapore dan Israel. Namun, harga yang agak mahal - daripada mainan pada umumnya- ini rasanya worth it jika mengingat manfaat tambahan yang diperoleh anak. Produk-produk GF bukan sekedar mainan, tetapi sekaligus menjadi sarana belajar anak. Sembari melakukan permainan, pengetahuan anak juga bertambah.
”Persaingan itu akan selalu ada. Keberadaan pesaing harus bisa memotivasi kita untuk selalu berusaha lebih baik..”, ujar Christine ketika ditanya pendapatnya tentang kemunculan pesaing-pesaing di bidang usaha serupa. ”Justru dengan semakin banyak pesaing, kita jadi tahu bahwa orang semakin aware akan edu-toys…”, ujarnya lagi. Untuk menghadapi persaingan, Christine selalu berusaha menyediakan produk-produk baru dengan kualitas terbaik. Namun, produk baru dan kualitas yang bagus juga belum cukup. GF bukan hanya menyediakan mainan, tapi juga konsultasi gratis. Klien (alias orangtua) selalu bisa menanyakan mainan apa yang sesuai dengan usia anak, fungsi dan manfaat dari setiap jenis mainan kepada staf outlet GF. Bahkan, sebelum klien bertanya, staf GF akan proaktif membantu. Layanan jasa inilah yang diharapkan menjadi kelebihan GF dari toko/usaha sejenis lainnya.
Mengelola usaha yang tergolong masih ’baru’ selain membutuhkan fokus perhatian yang lebih, tentunya juga menyita waktu yang tidak sedikit. Sementara, sebagai ibu rumah tangga, Christine memiliki tanggung jawab mengurus rumah dan keluarga (anak dan suami). Tentu bukan hal yang mudah juggling keduanya. Dalam hal ini, Christine mengaku sangat beruntung karena memperoleh banyak support….ya dari suami, orangtua, mertua, sampai baby sitter. Suaminya (Harta), yang lebih paham soal seluk beluk bisnis, ikut membantu sejak awal perintisan ”Growing Fun”. Bahkan, sampai sekarang pun sang suami tercinta masih bersedia turun tangan, terutama untuk hal-hal yang berurusan dengan komputer. Dukungan suami, bukan hanya dalam hal pekerjaan, dalam urusan rumah tangga pun Ia siap sedia. Sekarang ini Christine juga lebih banyak menemani Hayden. Pasalnya, karyawan-karyawannya dianggap sudah mampu menjalankan ”Growing Fun” dengan baik, sehingga Ia tak perlu setiap hari berada di sana, cukup 3 kali seminggu. Urusan marketing bisa Ia kerjakan di rumah. Kalaupun Christine harus keluar rumah untuk suatu urusan, ada orangtua atau mertua yang siap dititipi Hayden.
Sebelum menutup wawancara ini, Ibudananak.com mengajukan satu pertanyaan lagi; Apakah masih ada cita-cita, keinginan atau obsesi – dalam bisnis, keluarga, maupun pribadi- yang ingin Christine wujudkan? Dalam hal bisnis, Ia ingin membuka outlet-outlet Growing Fun di beberapa tempat lain. Sebenarnya masih ada bisnis lain yang ingin Ia jalani, yaitu berbisnis di bidang makanan. Tapi tentu saja keinginan itu belum dapat diwujudkan dalam waktu dekat ini, karena fokusnya saat ini adalah Growing Fun. Sementara untuk kehidupan pribadinya, Christine mengaku sudah cukup puas dengan apa yang dia miliki saat ini. Kalaupun boleh dibilang cita-cita, tahun depan Ia dan suami ingin memberikan adik pada Hayden. (EG – October 16, 2006)

*artikel yang termuat disini merupakan bagian dari ibudananak.com. Silahkan kunjungi www.ibudananak.com untuk informasi yang lebih lengkap. ibudananak.com untuk ibu moderen yang bijaksana, tempat mencari dan berbagi informasi, cerita dan keceriaan.*
Tamu kita kali ini adalah Dini (29 tahun). Ibu dari dua orang putri, Danisha Safia Rustandi (3 tahun) dan Dhafina Alima Rustandi (4 bulan).
Pemilik nama lengkap Dini Widiastuti Rustandi ini adalah seorang ibu yang bekerja paruh waktu. Awalnya ia bekerja penuh waktu di perusahaan milik keluarganya. Meski bekerja di perusahaan keluarga sendiri, bukan berarti membuat ia lebih ’bebas’. Tak seperti gambaran di sinetron, dimana orang yang bekerja di perusahaan keluarga bisa seenaknya sendiri. ”Justru tuntutannya dobel karena menangani urusan strategik dan operasional juga. Dan sebagai pemilik, kita juga dituntut untuk memberi contoh yang lebih baik kepada karyawan, ” kata Dini. Peraturan kerja di perusahaan sangat ketat dan, menurut Dini lagi, beban kerja serta kondisi di kantor memang tidak suportive untuk working mom. Ditambah lagi keharusan lembur sampai malam dan di hari Sabtu, kalau project sedang peak.
Namun, untuk benar-benar menjadi full time mom pun tidak bisa karena bagaimanapun juga ia tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari perusahaan. Akhirnya, istri dari Dendi Rustandi ini memutuskan untuk hanya bekerja selama 2 hari dalam seminggu ketika Danis berumur 8 bulan. Dengan cara ini, menurut Dini, selain memiliki lebih banyak waktu untuk sang buah hati, Ia dapat tetap memenuhi kewajibannya sebagai anggota keluarga. Pilihan ini, menurutnya lagi, adalah jalan tengah yang terbaik atau solusi yang optimal untuk saat ini.
Setelah tidak lagi menjadi FTWM (full time working mom), Dini mengaktualisasikan diri melalui sebuah milis yang dibentuk dan dikelola bersama 2 orang temannya. Milis yang bernama BeingMom ini ditujukan bagi para ibu yang ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam hal pengasuhan anak, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya anggota laki-laki alias para bapak. Selain aktualisasi diri, Dini juga menganggap milis sebagai tempat untuk mencari ilmu dan membentuk jejaring. Karena milis sifatnya lebih result oriented, maka Dini tidak strict dalam menerapkan ’jam kerja’. Sebelum Dhafina lahir, Dini berusaha agar pukul 10 pagi hingga 12 siang menjadi waktu ’kerjanya’, sementara Danis ditemani babysitter. Tetapi sekarang ini, dengan adanya 2 anak, urusan milis baru bisa ia tangani ketika kedua malaikat kecilnya itu tidur siang, atau malam hari setelah Danis, Dhafina dan Papanya tidur.
Dini mengakui bahwa kehidupannya sekarang ini jauh dari apa yang dulu ia bayangkan, inginkan dan rencanakan. Dulu, Ia adalah tipe orang yang penuh perencanaan dalam segala hal. Dan sekarang ini Ia berada di jalur yang dulunya sama sekali tidak terbayangkan. Boleh dibilang, cita-cita awalnya adalah menjadi FTWM yang mampu mengatur kedua ’dunia’nya dengan baik. Bagaimanapun situasi dan kondisi di rumah, urusan pekerjaan (kantor) juga berjalan lancar. Tetapi ternyata gatot alias gagal total. Karena setelah menjalani kehidupan sebagai FTWM selama beberapa bulan, Dini harus mengakui bahwa Ia bukan tipe orang yang bisa ’menutup mata’ terhadap keadaan anak yang begini atau begitu. Kalau kondisi itu dipaksakan untuk berlangsung terus, tentunya tidak benar, menurut Dini lagi. Jadi sebenarnya, kehidupan yang sekarang ini adalah plan B yang Ia optimalkan.
Keputusan itu, sudah tentu berdampak terhadap pendapatan dan peningkatan karirnya. Dini mengakui, kadang-kadang timbul juga perasaan jenuh dan ’tersingkirkan’ dari komunitas di kantornya. Ada saat-saat dimana Ia tidak lagi merasakan kegairahan kerja yang sama seperti yang dirasakan rekan-rekan sekantor. Tetapi perasaan itu hanya muncul bila sedang di kantor. Kalau sudah di rumah, apalagi kalau Danis sedang sakit, Ia merasa sangat bersyukur dengan keputusannya itu. Dan Dini merasa sangat bersyukur, Dendi sang suami tercinta sangat mendukung pilihannya. ”Justru setelah saya memutuskan berhenti kerja penuh waktu, Dendi jadi lebih sering membantu mengurus Danis. Katanya, dia salut sama saya karena bisa menempatkan Danis sebagai prioritas utama hidup saya,” tambah Dini.
Meskipun mengaku masih menyimpan keinginan untuk kembali bekerja penuh waktu suatu saat nanti. Tapi kalaupun kesempatan itu datang, sejujurnya Ia juga belum yakin apakah akan menggunakannya. Sebab, Ia juga menemukan kegairahan baru dalam milis. ”Ternyata dunia anak itu menarik sekali”, aku Dini. ”Apalagi jika bisa menghasilkan uang dari situ”, tambahnya lagi. Memiliki usaha sendiri juga menjadi impiannya, karena dengan menjalankan usaha sendiri Ia berharap dapat menetapkan waktu kerja yang fleksibel.
Ketika ibudananak.com menanyakan tentang bagaimana mereka memutuskan pola asuh anak, Dini mengibaratkan Dendi sebagai big boss sementara Ia sebagai operasional manager-nya. Garis-garis besar kebijakan sebagian besar datang dari Dendi, meski keputusan tetap dibuat bersama. Sedangkan bagaimana menerapkan policy tersebut, menjadi tugas Dini. Contoh konkritnya, mereka sepakat untuk berupaya selalu berkata jujur dan apa adanya pada Danis, dan menghindari kebohongan-kebohongan yang tidak perlu. Selanjutnya, Dini yang mencari trik-trik atau cara yang efektif untuk itu. Cara-cara yang ’ditemukan’ Dini itulah yang mereka terapkan ke Danis sehari-hari. Demikian juga tentang sekolah. Dendi tidak menginginkan Danis bersekolah di usia yang terlalu muda, sehingga mereka sepakat usia 3 tahun adalah waktu yang pas bagi Danis. Dini yang mencari informasi sekolah, kemudian mengajukan semacam proposal kepada Dendi. Setelah itu baru mereka bersama-sama melakukan survei. Khusus untuk urusan memilih sekolah, Dini menginginkan sekolah dapat mengakomodasi nilai-nilai yang selama ini Ia tanamkan kepada anak. Dengan kata lain, anak mendapatkan pengajaran nilai moral yang sama baik di rumah maupun di sekolah. Pendeknya, baik Dini mapun suami, sepakat untuk membesarkan anak dalam suasana yang sarat dengan nilai-nilai Islami.
Sebelum menutup perbincangan yang seru ini, ibudananak.com menanyakan arti anak bagi Dini. ” Anak adalah titipan Allah SWT. Karena itu kita harus menerima dia apa adanya. Dan karena titipan Allah juga, kita sebagai orangtuanya harus mampu mengasuh dan mendidik dia sebaik mungkin. Termasuk membantu anak mencari kelebihan-kelebihan dirinya dan membantu anak untuk mengatasi kelemahan dirinya ”. Tetapi Dini juga mengakui tidak mudah memang menerapkan ’teori’ tersebut.
Kalau sukses, Din, apa arti sukses menurut Anda? ” Sukses itu berarti bisa mencapai semua keinginan kita”, kata Dini. Secara pribadi, Dini ingin memiliki kegiatan yang berguna bagi orang banyak. Dalam kehidupan keluarga, Dini berharap keluarga kecilnya ini semakin dekat untuk menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Amien. (EG, 1 Mei 2006, revised Sept 27, 2006

*artikel yang termuat disini merupakan bagian dari ibudananak.com. Silahkan kunjungi www.ibudananak.com untuk informasi yang lebih lengkap. ibudananak.com untuk ibu moderen yang bijaksana, tempat mencari dan berbagi informasi, cerita dan keceriaan.*
Setelah keluar dari trio vokal AB Three, Lusy Rahmawaty tetap menjalankan profesinya sebagai penyanyi. Bedanya, kini ia tampil sendirian alias solo karir. Tawaran menyanyi pun pun berdatangan. Bahkan hingga kini ibu dua anak dari Kitaro Jose (7 bulan) dan Kimiko Lucibelle (3 tahun) ini tetap menjalankan aktifitasnya.
Semenjak diberikan momongan kedua, Lusy memang tak sabar lagi untuk menjalankan aktifitasnya. Apalagi Lusy berkeinginan untuk segera merilis album solo keduanya yang rencana dirilis usai lebaran nanti. Selain itu kata Lusy bila tak buru-buru ia merasa kasihan pada orang-orang yang mengantungkan hidup padanya. Seperti Manager dan Sound Engineernya.
Karena itu lah bagi Lusy menyanyi adalah kegiatan yang tak mungkin ia tinggalkan. Karena selain menyalurkan bakatnya, pekerjaan yang membesarkan namanya ini sudah merupakan pekerjaan sehari-harinya.
Hanya saja sekarang ini Lusy harus bisa membagi antara pekerjaanya dengan mengurus dua anaknya yang masih di bawah lima tahun. Untuk mengatur keduanya, istri Jose Poernomo ini mengaku tak mengalami kesulitan. “Karena aku tidak sendirian, ada banyak orang yang bisa diajak kerja sama. Ada bapaknya, Oma, Opanya juga. Jadi saya tidak ada masalah meski harus sibuk kerja di luar rumah,” kata Lusy.
Menurut Lusy, sudah menjadi masalah biasa bagi perempuan Indonesia yang di Jakarta bekerja di luar rumah. Justru kata Lusy, ia sengaja mencoba memperkenalkan pekerjaannya kepada kedua anaknya itu.
“Biar mereka tidak terlalu egois. Anak bisa mengerti bahwa ibunya bukan milik mereka saja. Tapi ibunyan punya dunia lain di luar rumah. Jadi dari sekarang sudah saya tanamkan kepada mereka untuk punya rasa kepedulian buat orang lain,” tutur penyanyi kelahiran 4 Januari 77 ini.
Apa artinya Lusy selalu mengajak anaknya ke tempat ia bekerja? “Tidak juga, saya tidak pernah memaksakan kehendak untuk membawa anak-anak ke tempat kerja. Karena tidak semua tempat kerja saya itu nyaman buat anak-anak. Tapi kalau memang enak buat anak pastinya saya ajak. Seperti kalau lagi manggung di mal atau di hotel,” terang Lusy.
Sebagai ibu, Lusy tentu punya kontrol sendiri berapa lama ia harus meninggalkan anak-anaknya. Apalagi di rumah banyak orang yang selalu mengingatkan bila ia kebablasan dalam bekerja. “Harus tahu dirilah jangan kebanyakan keluar rumah. Pekerjaan boleh tapi keluarga tetap nomer satu,” tutur Lusy.
Bagi perempuan lulusan UI D3 Perancis ini, kehadiran kedua anaknya merupakan obat setelah ia lelah bekerja. Makanya Lusy tak merasa terbebani dengan keduanya anaknya ini. “Habis kerja pulang ke rumah melihat mereka, aduh rasanya seneng banget, rasa capeknya jadi hilang,” ucap Lusy. yang dua bulan lalu Lusy melepas ASI buat Kitaro.
Karena keduanya anaknya masih balita, Lusy seriang merasakan adanya rasa cemburu Kimiko pada adiknya Kitaro. Hal ini buat Lusy sebagai sesuatu yang wajar. Apalagi nanti setelah keduanya tumbuh besar. “Yang ada pasti bakalan lebih repot,” ujarnya.
Menjelang puasa ini Lusy bakal sedikit repot juga mengurus dua anaknya. Apalagi bila menjelang lebaran nanti di mana baby sisternya pulang kampung. “Ya paling kembali ke keluarga lagi. Saya kan dikelilingi banyak orang yang peduli. Lagian kita nikmatin aja apalagi mereka kan anak kita sendiri,” ungkap Lusy yang tubuhnya kembali kurus karena menyusui.
Ditanya apakah Lusy berkeinginan menjadikan kedua anaknya mengikuti jejaknya sebagai penyanyi? “Kalau soal masa depan kita sebagai orangtua hanya membimbing yang baik-baik saja. Semua terserah mereka,” jawab Lusy. (One)

*artikel yang termuat disini merupakan bagian dari ibudananak.com. Silahkan kunjungi www.ibudananak.com untuk informasi yang lebih lengkap. ibudananak.com untuk ibu moderen yang bijaksana, tempat mencari dan berbagi informasi, cerita dan keceriaan.*
Profile kita kali ini adalah Clarissa Roland atau biasa dipanggil Lea, seorang ibu muda yang sekaligus seorang pengusaha di bidang publishing. Bersama dengan beberapa teman, ibu dari satu putra - Hardhana Setiawan (Ardho, 2 tahun)- dan istri dari Bagus Setiawan ini mendirikan usaha yang bergerak di bidang publishing (Content Magazine yang terbit 1 bulan sekali), disain grafis dan percetakan pada tahun 2002 lalu. “ Walaupun kondisi perekonomian Indonesia tengah lesu, bisnis ini dapat survive karena kami bergerak di bidang industri yang menjadi semacam kebutuhan primer semua jenis usaha. Semua usaha kan butuh brosur maupun media lain untuk promosi..”, begitu katanya.
Buat ibu muda ini, keluarga adalah segala-galanya. Sang suami sangat pengertian atas segala kesibukan ibu ini, yang menurut istilahnya, tengah berjuang memajukan usaha. Meskipun demikian ada batasan-batasan tertentu yang Ia buat sendiri dan jalankan, seperti tidak bergadang untuk mengurusi pekerjaan dan tidak sering-sering melobi klien di luar jam kantor. Hari Sabtu dan Minggu adalah jatah untuk keluarga dan itu tak dapat diganggu gugat. Keluarga kecil ini memiliki kegiatan rutin yang selalu dilakukan setiap weekend, yaitu ke supermarket untuk belanja mingguan. Selesai belanja, mereka lebih senang pulang dulu ke rumah. Baru jalan lagi pada sore harinya, entah itu mengunjungi saudara atau ke tempat lain. Ibu Lea menginginkan agar si kecil mengenal alam sejak dini. Untuk itu Ia dan suami mengajak Ardho pergi ke Taman Mini, Ragunan, Taman Bunga dan pantai.
Kehadiran Ardho, sang buah hati, diakuinya telah mengubah hidupnya. “ Sebenarnya saya ini tipe orang yang tidak bisa bangun pagi. Tapi sejak punya anak, saya selalu bagun pukul 6 pagi….”, katanya. Ia masih sempat memandikan dan menyuapi si kecil, sebelum memulai rutinitas kerjanya pada pukul 9 pagi. Dan Ia juga selalu mengusahakan untuk tidak pulang terlalu malam agar dapat bermain-main dengan Ardho barang 2-3 jam sebelum Ardho tidur. Lea mengaku beruntung mendapatkan nanny yang senior dan sudah sangat berpengalaman mengasuh anak. Ditambah dengan adanya ibu mertua di rumah, membuatnya merasa lebih aman meninggalkan anak dan bekerja.
Meskipun beruntung memperoleh nanny yang sudah sangat berpengalaman, Lea tidak lantas lepas tangan dalam hal urusan anak. Tetap ada beberapa direction yang Ia wanti-wantikan kepada sang nanny. Antara lain, perihal makan- Ia meminta nanny-nya untuk lebih sabar melatih Ardho makan makanan yang lebih padat (seperti makanan keluarga). Lalu jika ada tamu, terutama kalau tamu itu adalah saudara, Ia menekankan kepada nanny agar mendorong Ardho untuk bersalaman. Buatnya itu adalah tata krama yang tak dapat ditawar lagi. Selain itu, Ia juga memastikan sang nanny agar menyuruh Ardho untuk berdoa setiap kali mau tidur. Dalam hal pengawasan, Ia memperoleh bantuan dari banyak pihak, seperti suami, ibu, ibu mertua, maupun saudara-saudaranya yang lain. “ Kebetulan rumah saya itu selalu ramai, ada saja saudara yang datang ke rumah. Selain itu, saya juga percaya jika saya berpikir dengan positif tentu hal-hal positif pula yang akan terjadi pada saya dan keluarga…”.
Ketika ditanya nilai-nilai apa yang ingin Ia tanamkan ke buah hatinya, Ia menjawab kalau Ia tak ingin anaknya pilih-pilih dalam berteman, harus tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dan yang paling penting Ardho harus mengutamakan keluarga. Ia juga ingin anaknya selalu bersikap baik kepada teman-teman. Sebab, mengaca dari pengalaman pribadi, apa yang Ia dan suami peroleh saat ini adalah berkat dukungan keluarga dan teman-teman. Cara Lea dan suami menanamkan nilai-nilai ini kepada Ardho adalah dengan jalan mengajaknya berjalan-jalan, bertemu dengan teman-teman. Setiap kali ada acara keluarga, si kecil selalu mereka bawa serta. Jika berpapasan dengan orang asing dan orang itu tersenyum atau menyapa Ardho, Lea selalu mengajarinya untuk membalas senyuman, sapaan atau bahkan bersalaman dengan orang tersebut. Menurutnya, “Lewat hal-hal simple seperti itu, saya berharap nilai-nilai baik yang kami tanamkan akan berkembang seiring dengan perkembangan usia Ardho”.
Dalam hal pendidikan formal anak, mbak Lea ini memiliki kriteria khusus untuk memilih sekolah bagi jagoan kecilnya, yaitu sekolah tersebut harus multilingual. Buatnya kemampuan berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris saja tidak cukup. “Satu hal yang penting, saya ingin anak saya belajar di sekolah yang menerapkan sistem active learning. Bukan seperti jaman kita dulu yang disuruh menghapal terus…”, tambahnya.
Ketika ibudananak.com menanyakan harapannya untuk sang buah hati, Ia berharap Ardho bisa menjadi orang yang sukses, bukan hanya dalam karir (usaha) tetapi juga sukses dalam kehisupan sosialnya. Meskipun mengaku sudah cukup puas dengan kondisi keluarganya saat ini, toh ibu Lea tetap memiliki harapan agar kondisi ini terus berlangsung sampai Ia dan suami menjadi nenek-kakek. Sedangkan untuk kehidupan karir, sudah tentu Ia mengharapkan usahanya ini semakin berkembang. “ Nantinya kalau usaha saya ini sudah stabil, saya ingin mendelegasikan sebagian urusan kepada orang yang saya percaya sehingga saya bisa spent more time dengan keluarga dan anak saya. Saya kan juga ingin punya anak lagi….”, ujarnya menutup perbincangan sore kami. (EG)

*artikel yang termuat disini merupakan bagian dari ibudananak.com. Silahkan kunjungi www.ibudananak.com untuk informasi yang lebih lengkap. ibudananak.com untuk ibu moderen yang bijaksana, tempat mencari dan berbagi informasi, cerita dan keceriaan.*
Profile kita pada edisi perdana (ibudananak.com) ini adalah Anggraeni Hendrawan, atau yang sering disapa dengan Eni, seorang arsitek yang bekerja di sebuah biro konsultan. Kegiatan sehari-hari istri dari Hendrawan Satya Wandhana dan ibu dari tiga orang anak - Nitya Putrini (8 tahun), Ichsan Fajri (4 tahun) dan Dhiya Ayuri (8 bulan) – ini sama hectic-nya dengan ibu-ibu bekerja yang lain. Tapi meski sudah ‘berbuntut’ tiga, ibu yang awet ayu ini masih tetap funky lho! Malah oleh teman-teman(sekolah)nya, ia sering dipanggil ibu gaul.
Bangun subuh, arsitek lulusan UI ini lalu menyiapkan segala keperluan anak-anak. Pukul 6 pagi, mobil jemputan sekolah sudah datang untuk mengantar si sulung Nitya ke sekolah. Mau tidak mau, Nitya memang harus berangkat sepagi itu karena sekolahnya ada di daerah Parung, sementara Eni sekeluarga tinggal di Ciputat. Setelah anak-anak berangkat ke sekolah, giliran Eni menyiapkan diri untuk pergi ke kantor bersama-sama dengan suami tercinta. Anak yang kedua, Fajri, sekolah di taman kanak-kanak yang terletak di daerah Jakarta Selatan dan urusan antar jemputnya menjadi ‘tugas’ sang kakek. Sementara Eni dan suami bekerja, si bungsu Dhiya berada dalam asuhan kakek dan neneknya dengan dibantu oleh seorang babysitter.
Eni dan keluarga memang tinggal satu rumah dengan kedua orangtuanya. Diakuinya, bahwa tinggal dengan orangtua lama-kelamaan memang membuat kita jadi kurang mandiri. Namun, keputusannya untuk memilih tetap tinggal dengan orangtua adalah bukan karena ingin tetap berenak-enak dan takut untuk mandiri, tetapi lebih sebagai salah satu bentuk ‘baktinya’ kepada kedua orangtua. Selain ingin menemani dan menjaga mereka, menurutnya baru ‘inilah’ yang bisa ia ‘berikan’ kepada orangtua. “Memang semuanya Tuhan yang mengatur, tapi kalau dihitung-hitung, berapa lama lagi sih umur orangtua. Kalau kehadiran cucu-cucu membuat mereka bahagia, ya sudah. Toh, saya pikir kelak kalau sudah tua kita juga tidak ingin di-cuekin sama anak dan cucu sendiri”, begitu katanya. Hikmah lain yang ia rasakan adalah selama ia dan suami bekerja, anak-anak diawasi langsung oleh kakek dan neneknya (meskipun ada babysitter). Ini membuat hatinya lebih tenang karena yakin anak-anaknya berada dalam ‘tangan’ yang aman.
Ketika ditanya masalah yang paling berat sebagai ibu bekerja, jawabnya adalah mengendalikan emosi!. Setelah seharian ‘memeras’ tenaga dan pikiran di kantor, pengennya sih begitu sampai rumah langsung istirahat. Tapi boro-boro, baru masuk rumah, anak-anak sudah menyambut dan berceloteh menceritakan kegiatan mereka di sekolah siang tadi. Kalau kita tidak pandai-pandai mengontrol emosi, bisa-bisa yang keluar hanya rasa marah. Belum lagi ‘tuntutan’ perhatian dari suami, misalnya, suami minta pijit padahal badan kita sendiripun pegal-pegal. “Untungnya, di rumah saya lah yang lebih sering dipijit oleh suami, hahaha….”. Memang beruntung ibu cantik ini, karena sang suami sangat perhatian dan supportive.
Mengingat padatnya waktu sehari-hari karena bekerja, maka weekend adalah saat untuk berbagi waktu dengan anak-anak, biasanya mereka berjalan-jalan ke mall, kalau tidak ya lelah berenang. Atau kadang-kadang diisi dengan memasak kue bersama. Liburan panjang mereka jarang pergi keluar kota. Alasannya karena pada peak season begitu lalu-lintas biasanya terlalu padat. Setiap 2 minggu sekali mereka sekeluarga menginap di rumah orang tua suami, jadi ada semacam pembagian “jatah” kumpul dengan cucu. Hal ini mereka lakukan demi meneruskan ikatan batin antara nenek dan cucu. “Supaya ibunda mertua tidak merasa dilupakan oleh cucu-cucunya…” begitu katanya.
Every child is unique. Jadi kalaupun punya anak lebih dari satu, kita tidak bisa menerapkan pola asuh yang persis sama untuk setiap anak. Demikian pendapatnya, ketika ditanya seperti apa pola asuh yang ia terapkan kepada ketiga buah hatinya. Diakuinya bahwa ilmu tentang parenting itu memang bisa diperoleh dari berbagai referensi, bisa dari buku, majalah, dan diskusi dengan teman-teman. Tapi teori-teori yang ada di buku atau majalah sering tidak dapat diaplikasikan begitu saja. Untuk itu ia sering juga berdiskusi dengan suami tentang pola asuh anak. Pengalaman mengasuh anak pertama membuatnya dapat lebih tenang menghadapi tahap-tahap tumbuh kembang anak kedua dan ketiga. Dalam mendidik anak-anaknya, Eni dan suami lebih senang memberikan penjelasan sebab dan akibat. “…jika kamu melakukan itu maka kejadiannya akan begini begitu dan seterusnya…” dan ceritanya bisa panjang sampai si anak paham.
Satu hal yang ia sesalkan dari keputusannya menjadi working mother, yaitu tidak bisa mengantar Fajri, anak keduanya, ke sekolah. Ia merasa sangat kehilangan saat-saat itu. Ketika baru punya satu anak, Eni pernah menjadi stay-at-home mom sehingga otomatis waktunya lebih banyak dicurahkan untuk sang buah hati. Meskipun kemudian ia kembali ke bangku kuliah untuk mengambil gelar master di bidang lingkungan, ia masih sempat, bahkan sering, mengantar-jemput Nitya ke sekolah. Oleh karena itu ia berpesan agar para ibu menyempatkan diri mengantar anaknya ke sekolah (jika memungkinkan menunggui), walau hanya sekali saja. Menurutnya ini sangat berarti bagi kejiwaan si anak.
Menyangkut pendidikan formal untuk anak-anaknya, Eni mengaku menginginkan yang terbaik. Definisinya tentang pendidikan yang baik adalah bukan hanya dari sisi akademis, tapi juga baik untuk perkembangan emosi dan spiritual anak. Harapannya adalah anak-anaknya memiliki rasa toleransi terhadap sesama apapun latar belakang mereka. Jadi buat apa dia pintar, selalu menjadi juara kelas kalau tidak bisa bersosialisasi dengan anak-anak yang lain? Itulah alasannya mengapa ia memasukkan Nitya dan Fajri ke sekolah yang murid-murid dan guru-gurunya terdiri dari multi etnik dan multi agama.
Pertanyaan terakhir kami sebelum kami berpisah adalah, “Apa arti anak bagi seorang Eni? Baginya, anak adalah anugrah yang harus dijaga jangan sampai salah jalan dan jadi orang yang lebih baik dari kedua orang tuanya. Anak sebagai acuan untuk introspeksi diri. Demikianlah akhir perjumpaan kami dengan mbak Eni, semoga harapan dan keinginannya terkabul. Amin. (B dan EG)

*artikel yang termuat disini merupakan bagian dari ibudananak.com. Silahkan kunjungi www.ibudananak.com untuk informasi yang lebih lengkap. ibudananak.com untuk ibu moderen yang bijaksana, tempat mencari dan berbagi informasi, cerita dan keceriaan.*
March 30, 2008
macho Hari ini saya mendapatkan email berisi polling dari salah satu teman saya. Isinya cukup bikin saya berpikir agak lama. Disana saya disuruh memilih kira kira tipe pria bertubuh apa yang bisa membangkitkan hasrat seksual saya? Pilihannya adalah pria yang bertubuh kurus, pria yang bertubuh proposional,pria bertubuh proposional dengan otot di tangan dan dada (walau tidak begitu kekar) atau pria yang benar benar kekar dan macho seperti binaragawan.
Wah! Diberi pilihan seperti itu sebenarnya cukup sulit untuk saya. Karena untuk membangkitkan hasrat seksual, saya menyukai pria yang bertubuh proposional yang atletis. Saya tidak terlalu menyukai pria dengan tubuh benar benar kekar, karena melihat tubuh seperti binaragawan hanya membuat saya ngeri saja. Walau saya menyukai pria dengan tubuh atletis tapi pada kenyataannya suami saya bertubuh kurus dan saya tetap sangat menikmati ketika bermesraan dan berhubungan intim dengannya. Selera setiap wanita berbeda beda bukan?
Bagaimana dengan anda? Tipe pria yang bertubuh seperti apa yang anda suka? Semua orang, tidak hanya laki atau perempuan pasti memiliki fantasi tentang tubuh pasangan yang paling ideal yang dapat membuatnya bergairah. Ayo, ceritakan sosok fantasi anda disini, siapa tahu hal itu bisa jadi penyemangat pasangan anda untuk menjadi sosok ideal sesuai keinginan anda. Kalau belum kesampaian? Yaaaaa, namanya juga fantasi*** (dms)
*artikel yang termuat disini merupakan bagian dari ibudananak.com. Silahkan kunjungi www.ibudananak.com untuk informasi yang lebih lengkap. ibudananak.com untuk ibu moderen yang bijaksana, tempat mencari dan berbagi informasi, cerita dan keceriaan.*
Oral seks adalah suatu bentuk pemanjaan diri dalam dunia sex, apalagi untuk para suami.
Salah seorang teman saya mengadu tidak pernah ‘dioral’ oleh istrinya.
Padahal dia melakukan apa saja yang bisa membuat istrinya merasa dimanjakan soal sex. Dibanding suasana sex mereka menjadi jelek akhirnya teman saya mengalah dan memendam keinginannya.
Katanya (katanya loh…) wanita Indonesia itu pasif dalam urusan sex, senang dioral dan dimanjakan dengan ciuman ciuman dan sentuhan dibandingkan bermain ‘to the point’.
Memang sih, ada juga teman saya yang wanita mengungkapkan kalau dia memang enggan jika harus melakukan oral sex untuk suaminya.
Buatnya hal itu menjijikan, tidak hygenis dan kurang membuatnya nyaman (walaupun ia tidak pernah menolak jika suaminya memberikan ‘servise’ oral sex) dan ia mau melakukannya jika sang suami menggunakan kondom!(wah, kalau menggunakan kondom buat saya malah kurang nyaman…)
Buat saya pribadi tidak masalah untuk melakukan oral sex untuk suami saya, malah saya kurang nyaman jika ia yg meng-oral saya.
Buat saya saat mengoral suami saya adalah “permainan yang menyenangkan dan menggemaskan”hehehehe, soal hygenis tentu saja kita tetap bisa menjaganya dengan membersihkan organ intim terlebih dahulu.
Dan yang terpenting dari semua itu adalah komunikasi antar pasangan sehingga mengetahui apa yang diinginkan oleh pasangan masing masing.
Bukankah hubungan sex akan terasa dan tercipta menjadi ‘luar biasa’ jika pasangan tahu apa yang diinginkan dan diciptakan dalam suasana intim tersebut dan bisa bekerja sama untuk menciptakannya.
Bagaimana dengan anda? Suka meng-oral? Di-oral? Atau tidak keduanya? Mari berbagi cerita bersama kami disini.Siapa tahu cerita, saran dan tips dari anda bisa membantu pasangan lain menemukan kehangatan dalam hubungan sex mereka.(dms)
*artikel yang termuat disini merupakan bagian dari ibudananak.com. Silahkan kunjungi www.ibudananak.com untuk informasi yang lebih lengkap. ibudananak.com untuk ibu moderen yang bijaksana, tempat mencari dan berbagi informasi, cerita dan keceriaan.*
Ada sedikit pengalaman menarik tentang Mama sewaktu saya masih lajang dulu. Dulu saya pikir sikap hematnya malah cenderung pelit. Berbagai pertanyaan datang dibenak saya kalau acara menasehati mama soal hemat kambuh. Kenapa sih mama sukanya hal yang gak praktis praktis aja?
Ternyata, ketika saya sekarang sudah berumah tangga dan menjadi orang tua dan tinggal disebuah lingkungan, sikap mama adalah sikap yang patut dicontoh. Dengan gaya hidupnya yang sederhana dan pola pikirnya yang juga sederhana, sikap hematnya ternyata membuatnya menjadi contoh ‘pecinta lingkungan hidup’.
Andai semua orang modern bersikap seperti mama, pasti global warming dan kerusakan lingkungan akan semakin terminimalisir dan yang jelas hemat.
Contohnya, dulu mama lebih suka untuk memasang kawat nyamuk dijendela, menjaga rumah untuk selalu bersih, untuk menjadikan rumah tanpa nyamuk. Jika ada nyamuk yang berseliweran ia lebih suka mengambil tutup panci dan mengolesinya dengan minyak kelapa dan menangkap nyamuk yang sesekali lewat dibandingkan memasang atau menyemprotkan obat nyamuk. Karena menghindari bahan kimianya? Bukan. Karena obat nyamuk hanya bikin pernafasannya sesak saja…hehehhee.
Kalau saya lebih suka langsung beli buku masakan, mama lebih suka membuat kliping resep dari Koran dan majalah yang tidak terpakai.
Kalau saya memasang banyak AC dirumah agar membuat rumah lebih sejuk, sedangkan mama lebih suka membangun rumah dengan atap tinggi, jendela yang besar dan ventilasi yang banyak serta menanam tumbuhan.
Kalau di gudang rumah saya penuh dengan barang barang yg tidak terpakai, di gudang rumah mama sedikit dengan barang barang yang tidak terpakai dan sudah ia jual kembali.
Jika saya lebih suka membeli pembersih furniture, mama lebih suka menggunakan kemiri untuk membuat furniture kayunya lebih mengkilap.
Jika ditempat sampah saya penuh dengan tissue bekas, mama lebih suka menggunakan saputangan. Dan masih banyak lagi sikap hemat mama yang bisa dianggap tips mengurangi global warming dan kerusakan lingkungan akibat ulah manusia.
Ia melakukan semua itu hanya karena berpikir hemat. Jika diikuti dampaknya akan luar biasa.
Satu pesan yang selalu saya ingat dari mama “semua hal hasilnya akan sangat baik jika kita selalu meluangkan waktu dan tenaga untuk melakukannya sendiri.”
Akh, mulai hari ini saya mau mencoba lebih perhatian lagi untuk urusan rumah tangga. Karena dampaknya tak hanya untuk keluarga tapi juga untuk semua hal, seperti mama.love you mom. (dms)
*artikel yang termuat disini merupakan bagian dari ibudananak.com. Silahkan kunjungi www.ibudananak.com untuk informasi yang lebih lengkap. ibudananak.com untuk ibu moderen yang bijaksana, tempat mencari dan berbagi informasi, cerita dan keceriaan.*
Mom’s dengan musim hujan yang tidak beraturan seperti saat ini membuat kewaspadaan kita terhadap demam berdarah harus meningkat 2 kali lipat. Tak hanya cemas akan nyamuk yang membawa virus tersebut, tapi juga musti hati hati dengan orang orang yang menawarkan fogging kerumah rumah dengan cairan fogging palsu yang bisa membahayakan kesehatan. Yang ada bukannya bebas dari nyamuk tapi malah terkena penyakit.
Jadi ingat ya mom’s, sebenarnya cara terampuh untuk terhindar dari demam berdarah adalah rumah yang bersih dan sehat, selalu keringkan toilet dirumah anda karena bisa menjadi sarang nyamuk, bersihkan lingkungan dari sampah sampah dan tutup tempat penyimpanan air anda. Gunakan Abate jika perlu untuk membuat jentik nyamuk mati.
Bila ingin melakukan fogging atau pengasapan lebih baik meminta pihak puskesmas atau departemen kesehatan dilingkungan rumah Mom’s untuk melakukannya, ini untuk menghindari pengasapan palsu oleh oknum.
Jika bagian dari keluarga anda mengalami panas tinggi segera bawa kedokter, jangan tunda untuk melakukan test darah untuk segera mengetahui apakah keluarga anda terkena demam berdarah atau tidak.
Dimulai dari diri kita, untuk kita dan bagi keluarga kita. Yuk berantas demam berdarah.(dms)
*artikel yang termuat disini merupakan bagian dari ibudananak.com. Silahkan kunjungi www.ibudananak.com untuk informasi yang lebih lengkap. ibudananak.com untuk ibu moderen yang bijaksana, tempat mencari dan berbagi informasi, cerita dan keceriaan.*